Dec
03
2008
|
Wednesday, 03 December 2008 |
|
Di era sekarang, HAM dan Islam sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Ini tidak dimaknai bahwa posisi HAM tidak diatas AL-Quran dan Al-Hadis. Akan tetapi, hal itu lebih dititik beratkan pada upaya penggalian kembali terhadap khasanah Islam. Dalam kontek ini, para cendekiawan muslim sudah selayaknya melakukan "adaptasi" dan bahkan "integrasi" terhdap perkembangan ilmu pengetahuan modern yang dilandasi oleh spiritualitas agama. Di sinilah posisi HAM menjadi elemen penting bagi kehidupan masyarakat Muslim modern, khususnya dalam dunia pendidikan.
Berangkat dari upaya penggalian Khasanah islam yang disertai dalam keprihatinan teramat dalam akan tindakan-tindakan tidak manusiawi di zaman modern, buku Al-Islam dan Ke- Muhammadiyahan (AIK) berwawasan Hak Asasi Manusia ini hadir. Buku yang ditulis oleh para guru dan dosen dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah ini merupakan hasil kerja sama antara Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Maarif Institute for Culture and Humanity.
Klik untuk Download Artikel Lengkap dalam Bentuk PDF
|
Dec
01
2008
|
Monday, 01 December 2008 |
|
Asep Hilman Yahya, S. Ag.
Guru SMP-SMA Plus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya dan
Alumni Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom Garu
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia........." (Q.S. Ali Imran : 112)
Dalam Islam, upaya manusia ketika mencanangkan nilai atau norma untuk diaplikasikan dalam kehidupannya dituntun agar mengarah kepada integralisasi nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah. Integralisasi ini menjadi suatu keniscayaan, karena di satu sisi, nilai-nilai ilahiyah sebagai sesuatu yang mutlak dan tidak terbatas hanya bisa bersemayam pada diri manusia dalam wilayah keimanannya. Sementara di sisi lain, nilai-nilai insaniyah sebagai sesuatu yang relatif dan terbatas senantiasa mengalami perubahan dalam dinamika pemikiran dan pengalaman intuitifnya masing-masing. Hanya sepercik saja titisan nilai ilahiyah yang mengalir dalam fitrah manusia yang kelak menjadi titik awal pembentukan nilai-nilai universal dalam konteks sosial- kemanusiaan.
|
|
Nov
25
2008
|
Tuesday, 25 November 2008 |
|
Ahmad Syafii Maarif
Dalam dunia politik
sepanjang sejarah, sikap pragmatis jauh lebih dominan daripada
idealisme kaku yang sering didengungkan oleh kaum fundamentalis. Ada
ungkapan yang menggambarkan gejala pragmatisme politik ini: 'Tidak ada
kawan dan lawan abadi; yang abadi adalah kepentingan'. Dulu pada Pemilu
1955, Partai Masyumi memenangkan 11 dari 14 daerah pemilihan, termasuk
Sumatra Barat, Jakarta Raya, Jawa Barat, Sulawesi Selatan. Setelah
Masyumi dibubarkan tahun 1960, pengikut Masyumi di empat provinsi itu
pada umumnya menjadi manusia pragmatis belaka. |
|
Nov
17
2008
|
Monday, 17 November 2008 |
 Dr Musharraf Hussain Director of Karimia Institute, Nottingham, Britain. Pemimpin Delegasi Imam Inggris Selama tiga hari, saya tinggal di Pondok Pesantren Sunan Pangandaran,
Yogyakarta. Saya begitu terkesan terhadap sambutan penghuni pondok
tersebut. Saya merasa diterima sebagai saudara, dengan segala
keramahtamahan dan ketulusan.Disana, saya merasa di lingkungan yang
sangat bersahaja, bukan saja dari para guru dan santri disana, tapi
juga warga sekitarnya. Mereka begitu tulus selalu mengirimkan senyum.
Yang lebih menarik lagi, saya melihat pengelola pondok tak memberikan
perlakuan berbeda pada santri pria dan wanita. Mereka memang tinggal di
asrama terpisah. Tapi mereka diperlakukan sama, totally equal.
Saya
tak bisa membandingkan keberadaan pesantren semacam PP Sunan
Pangandaran dengan yang ada di Inggris. Saya datang bukan untuk membuat
perbandingan, dan saya juga tak mau melakukan itu. Tentu. Kami juga
mempunyai lembaga sama. Walaupun tujuannya sama, yakni untuk
mengajarkan Islam, tapi kita tidak bisa membandingkan. Semua perbedaan
ini timbul karena perbedaaan budaya, perbedaan filosofi hidup,
perbedaan cara hidup, dan juga berkaitan perbedaan lingkungan
sekitarnya. Selain itu, di Inggris kami tidak mempunyai sumber daya
manusia untuk mengelola pondok pesantren seperti yang ada di Indonesia.
Saya melihat betapa lembaga pendidikan Islam semacam ini bisa
bermanfaat membentuk karakter santri-santrinya menjadi muslim yang
baik. |
|
Nov
17
2008
|
Monday, 17 November 2008 |
|
Shouaib Ahmed adalah mantan sekretaris umum dari organisasi Islam the Markazi Jamiat Ahl-e-hadist
di Inggris. Pria berusai empat puluh tahunan ini kini ia merasa
mendapat saudara dari Indonesia, Drs Muhammad Saifuddin Hadi, yang
sehari-harinya guru Bahasa Arab di Madrasah Muallimin, Yogyakarta.
Shouaib dan Saifuddin Hadi dipertemukan melalui program Imam Exchance 2008,
3-9 November di Yogyakarta. Selama 3 hari Shouaib tinggal di Madrasah
Muallimin. Ia bergaul dengan warga madrasah milik Muhammadiyah
tersebut, para gurunya, santri-santrinya, juga dengan pegawai disana.
Kata Saifuddin, walaupun terasa singkat, hadirnya Shouaib telah membawa
kesan mendalam para warga madrasah. |
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 9 - 16 dari 37 |