Jul
19
2011
|
Membangun tanpa Slogan Syariah |
|
Tuesday, 19 July 2011 |
|
Oleh Ahmad Syafi’i Maarif
Mungkin sebagian
pembaca sudah paham bahwa saya adalah penganut “filosofi garamnya Bung
Hatta” sebagai lawan “filosofi gincu” ketika berbicara tentang Islam dan
kekuasaan. Perhatikanlah, perilaku garam yang luluh dalam makanan,
terasa tetapi tak tampak. Berbeda dengan gincu di bibir perempuan,
sangat kentara tetapi tak terasa. Dengan filosofi inilah saya akan
mengurai kemenangan Partai AKP ( Adelat ve Kalkinma Partisi/ Partai
Keadilan dan Pembangunan) pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan
(57) untuk ketiga ketiga kalinya dalam pemilu di Turki pada 12 Juni
2011. Dari 550 kursi yang tersedia di parlemen, AKP telah merebut
sejumlah 325 (sekitar 49,9 persen). Jumlah kursi ini memang turun
dibandingkan dengan perolehan pada pemilu 2002 dan 2007 (sebesar 363 dan
341). Erdogan tentunya telah melakukan introspeksi mendalam tentang
tren penurunan jumlah kursi ini, sekalipun masih meraup kemenangan
besar.
AKP adalah kelanjutan dari Refah Partisi (Partai
Kemakmuran) pimpinan mentor Erdogan Dr Mecmettin Erbakan yang kemudian
diterpedo pihak militer, pewaris Kemal Ataturk, pembangun sekularisme
yang gagal di Turki. Erbakan hanya setahun menjabat perdana menteri
(1996-1997) untuk kemudian diturunkan oleh pihak milter karena orientasi
keislamanan nya dipandang berbahaya bagi kelangsungan sekularisme di
Turki. Pihak militer yang bersikap kaku ini tidak mau menyadari dan
tetap menutup mata bahwa sekularisme yang dibanggakan selama 79 tahun
itu tidak menjadikan Turki menjadi negara makmur dan berwibawa. |
|
<< Awal < Sebelumnya 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 26 - 26 dari 269 |