Jurnal Maarif

Vol 5 No 1 Juni 2010

Thursday, 15 July 2010 | Administrator

article thumbnail  Download 1 Download 2
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Kliping

 

 

Kliping Magsaysay Award


 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday26
mod_vvisit_counterYesterday161
mod_vvisit_counterThis week751
mod_vvisit_counterThis month355
mod_vvisit_counterAll32406

Login Forum

Polls

Bagaimana Tampilan Web ini menurut Anda..?
 

Berita Media

Syafii Maarif: Menteri Agama Tidak Bijak

Wednesday, 01 September 2010

article thumbnailVIVAnews - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menyayangkan pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali soal pembubaran Ahmadiyah. Syafii...
Selengkapnya

Menag Harus Tarik Pernyataannya

Tuesday, 31 August 2010

article thumbnailJAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif mengatakan, Menteri Agama Suryadharma Ali harus menarik pernyataannya soal rencana...
Selengkapnya

Program Kemitraan

Home
Aug 27 2010
Menyimak Pelayanan Umat PDF Print E-mail
Friday, 27 August 2010

Jumat, 20 Agustus 2010

Judul : Melayani Umat: Filantropi Islam dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis
Penulis : Hilman Latief
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 1, Juli 2010
Tebal : 344 halaman
Harga : Rp55.000,-

Bulan Ramadan telah tiba, ini merupakan tonggak utama dari realisasi filantropi, kedermawanan, dalam masyarakat muslim. Tidak mengherankan, Ramadan merupakan salah satu momen puncak yang berlangsung sebulan penuh untuk peningkatan amal ibadah.

Bukan hanya ibadah puasa, tetapi juga untuk ibadah yang bersifat filantropis, yang diwujudkan dalam berbagai bentuknya, sejak dari pemberian makanan untuk berbuka bagi kalangan masyarakat muslim yang membutuhkannya sampai kepada berbagai bentuk kedermawanan lainnya.

Buku berjudul Melayani Umat: Filantropi Islam dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis ini hadir membawa pesan ihwal seluk-beluk filantropi islam di negeri ini, serta dielaborasikan penerangan sentuhan kemodernisan dalam perkembangannya.

 

 
Aug 24 2010
Pidato Kunci di Trento (I) PDF Print E-mail
Tuesday, 24 August 2010

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Sebagaimana telah disinggung dalam Resonansi, 27 Juli 2010, saya diundang untuk menyampaikan sebuah pidato kunci di depan sekitar 600 ahli etika Katolik sedunia di Trento (Italia) pada 24 Juli yang lalu. Mereka mewakili 65 negara yang meliputi semua benua. Siapa tahu isi pidato itu baik juga diketahui oleh publik Indonesia, maka terjemahan di bawah saya turunkan seluruhnya. Yang aslinya berjudul “Ethics and Inter-Religious Dialogue in a Globalized World (A Muslim Perspective)” atau “Etika dan Dialog Lintas Agama dalam Sebuah Dunia yang Membuana Menurut Perspektif Seorang Muslim.

Pengantar
Di sebuah dunia yang terbelah antara si kaya dan si miskin, antara utara dan selatan, antara mereka yang meraih manfaat melimpah di sebuah dunia yang membuana dan mereka yang tertindas dan terpinggirkan, baik di bidang ilmu ekonomi maupun bidang lainnya, etika macam apa yang sangat diperlukan saat ini untuk menjembatani kesenjangan itu?

Dialog-dialog lintas agama telah sering diadakan di berbagai bagian bumi selama lebih dari dua dasawarsa terakhir. Tetapi, dunia kita, satu-satunya planet tempat kita melangsungkan hidup, masih jauh dari atmosfer keadilan, saling memahami, dan rasa aman. Konflik-konflik etnis keagamaan masih saja bersama kita: Afghanistan dan Irak, seperti tak berdaya untuk mengembangkan demokrasi dan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia. Terorisme dalam berbagai jenis masih mengancam kemanusiaan pada umumnya.

 
Aug 18 2010
Tersesat di Muenchen PDF Print E-mail
Wednesday, 18 August 2010

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Kamis, 29 Juli 2010. Dalam usia senja dengan kepala tujuh, ada perasaan gundah yang bergayut di otak saya jika bepergian jauh sebatang kara.

Tiga jenis bayangan nasib malang yang mungkin berlaku: sakit, dirampok, dan tersesat. Alhamdulillah, kejadian pertama dan kedua belum pernah dialami. Jika sakit, paling-paling sakit perut dan gatal di kaki karena alergi cuaca dingin. Adapun tersesat di jalan, kejadian di Muenchen yang akan saya ceritakan ini bukan yang pertama dialami, padahal dengan berjalan kaki lagi.

Dalam perkara ingat-mengingat alamat jalan dan tempat, boleh jadi IQ saya di bawah sopir Maarif Institute, Bung Irman. Di Jakarta yang serba macet, teman yang satu ini sangat menguasai jalan-jalan tikus agar cepat tiba di tempat tujuan. Sekali Bung Irman mengenal sebuah alamat atau lokasi mungkin seumur hidup tak akan dilupakannya. Tak tahu bagaimana dahsyat saraf otaknya bekerja untuk mengingat tempat-tempat tertentu, sekalipun baru sekali didatangi. Kita tidak boleh pandang enteng seorang sopir yang belum tentu berpendidikan tinggi. Ada saja kelebihan seseorang yang harus dihargai, apa pun posisinya.

Demikianlah, sore pada tanggal di atas setelah rampung berseminar dengan tema ”Religious Pluralism: Islam and Christianity in the 21st Century” di Eden Hotel Wolff, Jalan Arnulfstr 4, saya harus berjalan ke suatu tempat. Demi memenuhi permintaan anak untuk mencarikan alat canggih yang bernama Apple Ipad, saya bergerak ke arah timur dari Hotel Excelsior di jalan SchuzenstroBe 11, sebuah nama jalan yang beberapa kali saya baca, tetapi tidak pernah hafal.

 

Last Updated ( Monday, 23 August 2010 )
 
Aug 05 2010
MUHAMMADIYAH YANG MENYEJARAH PDF Print E-mail
Friday, 06 August 2010

Fajar Riza Ul Haq

Direktur Eksekutif MAARIF Institute for Culture and Humanity


Perbincangan bahkan lebih jauh pertautan  - sebagaimana hendak dituju tema Jurnal Inovasi kali ini – Muhammadiyah dan imaji peradaban utama sangat berkaitan dengan etos kreativitas dan otonomi individu. Hal ini mengingat Islam memperlakukan manusia sebagai manusia, tidak dianggap remeh dan tidak juga dipuja setengah dewa (Sardar, 1986: 41). Sebuah peradaban lahir dan tumbuh dari denyut nadi manusia kreatif bahkan berbudaya. Sosiolog besar Muslim Ibnu Khaldun berujar, “secara alamiah setiap manusia memiliki karakter beradab, oleh karena itu suatu kemutlakan untuk bermasyarakat sebagai fondasi sebuah peradaban” (Muqoddimah, tt.: 41).
Para filosof menyebut peradaban itu dengan istilah “madinah”. Tidak ayal, idiom “peradaban utama” merupakan alih bahasa bahkan bisa jadi sebuah penerjemahan gagasan besar Al Faraby mengenai “al madinah al fadhilah”. Dalam perspektif evolusi peradaban Khaldunian, sejarawan-filosof Arnold Toynbee mendudukan peradaban sebagai sebuah gerakan yang dinamis, bukanlah satu kondisi puncak yang jumud. Semangat perubahan itulah yang mengkatalisasi kebangkitan, pertumbuhan, kejayaan bahkan hingga kejatuhan sebuah peradaban. Jadi, idealitas “peradaban utama” yang ingin dituju masyarakat Muhammadiyah bersifat becoming (proses menjadi), bukan being, mengikuti alur argumentasi Stuart Hall, seorang punggawa Cultural Studies, ketika ia mengulas persoalan identitas.
Ketika Muhammadiyah mendeklarasikan “mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-sebenarnya” sebagai cita-cita sosial persyarikatan pada tahun 1945 di era Ki Bagus Hadikusumo maka gerakan ini sedang memproyeksikan masa depan yang TERENCANA secara institusional. Ziauddin Sardar membedakan masa depan tidak terarah dan terencana. Menurut Haedar Nashir, rumusan lain yang sempat dipakai pada periode asas tunggal Pancasila 1985, “terwujud masyarakat utama adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT, ” mewakili substansi rumusan awal karena rumusan kedua sebangun dengan konsep “al madinah al fadhilah” (lih. Nashier, 2010: 319-320). Sangat terang, para pemimpin Muhammadiyah sudah secara secara sadar memproyeksikan gerakan Muhammadiyah untuk mencapai idealitas peradaban utama. Maka menjadi sungguh tepat pilihan strategi gerakan ini dengan memposisikan diri sebagai gerakan dakwah dan kebudayaan, bukan gerakan politik.

 
Aug 03 2010
Demokrasi dan Peluang untuk Perbaikan PDF Print E-mail
Tuesday, 03 August 2010

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Beberapa hari yang lalu, seorang anggota DPR muda yang cukup kritikal dengan masalah kekuasaan mengatakan kepada saya bahwa dari 560 koleganya, kurang dari sepertiga yang berkualitas. Sebagian besar hanyalah menyandang gelar sebagai wakil rakyat yang misi politiknya tidak jelas, kecuali melaksanakan tiga D: Datang, Duduk, dan Duit.

Mungkin penglihatan sahabat kita ini berlebihan, sebab siapa tahu mereka yang berada dalam kategori tiga D itu sesungguhnya adalah manusia-manusia baik, hanya habitatnya bukan di parleman, melainkan tempat lain yang sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Tetapi sudahlah, apa yang ditengarai oleh teman di atas juga telah menjadi pembicaraan di warung-warung kopi di seluruh pelosok Nusantara. Tingkat peradaban demokrasi kita memang baru mencapai taraf itu, tak perlu disesali, semuanya semoga dalam proses menuju perbaikan kualitatif.

Sesungguhnya yang patut disorot bukan hanya lembaga legislatif, sebab dua mitranya, eksekutif dan yudikatif, idem dito. Belum lama ini mantan petinggi kementerian keuangan dengan jujur mengatakan kepada saya bahwa pemerintah sekarang telah kehilangan roh, tidak mampu melihat yang esensial, hampir semuanya melakukan akrobatik tambal sulam. Ada perintah tegas dari atas, misalnya, dalam implementasi hampir tidak ada kelanjutannya. Yang memberi perintah pun kemudian tenang-tenang saja, ya karena itu tadi, mengabaikan yang esensial. Kadang-kadang saya berpikir, mungkin semuanya itu bukan sebagai tanda kelemahan pemerintah, tetapi memang masalah bangsa dan negara ini terlalu ruwet untuk mampu ditangani oleh mereka yang kecil nyali dan tidak fokus. Di ranah yudikatif, jangan ditanya lagi, semuanya terbiasa main kucing-kucingan di antara sesama aparat penegak hukum, tanpa perasaan malu. Yang beruntung adalah pengacara yang memang bahagia dengan situasi keruh yang memberi keuntungan materi kepadanya.
 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 1 - 9 of 184

Kabar Komunitas Maarif

Transportasi Publik bagi Warga Kayu Putih

Wednesday, 18 August 2010 | Administrator

article thumbnailKupang, MAARIF Institute. Ketiadaan sarana transportasi publik di kelurahan Kayu Putih kota Kupang, menjadi keluhan sebagian masyarakat setempat. Saat ini beberapa elemen masyarakat tengah memperjuangkan terciptanya sarana transportasi umum yang...
Selengkapnya

Berita Lainnya