Jurnal Maarif

Volume 6 No 2 Nov 2011

Monday, 19 December 2011 | Administrator

article thumbnail View   
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Kliping


 

 

Kliping Magsaysay Award


 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday107
mod_vvisit_counterYesterday200
mod_vvisit_counterThis week107
mod_vvisit_counterThis month1170
mod_vvisit_counterAll138272

Berita Media

Maulid Nabi, Syafii Maarif Luncurkan Buku

Sunday, 05 February 2012

article thumbnailAKARTA, KOMPAS.com - Bertepatan dengan peringatan Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW yang dalam penanggalan Masehi jatuh hari Minggu (5/2/2012) ini, Prof Syafii Maarif ...
Selengkapnya

SYAFII MAARIF LUNCURKAN BUKU TERBARU

Sunday, 05 February 2012

article thumbnailMAARIF Institute, 5 Februari 2012. Sebagian besar umat Islam di dunia merayakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada hari ini berdasarkan kalender...
Selengkapnya

Home
Jan 10 2012
Tujuh Juta Kelas Menengah Per Tahun? PDF Print E-mail
Tuesday, 10 January 2012

Oleh Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA | 10 JAN 2012

Inilah berita mewah yang dilansir media sejak 2010: Indonesia kedatangan tujuh juta kelas menengah saban tahun. Bank Dunia bahkan mengatakan, di antara 237 juta (sensus 2010) penduduk Indonesia sebesar 56,5 persen sudah tergolong kelas menengah. Jika alur gelombang ini dipercaya, dalam 10 tahun akan datang, mayoritas rakyat Indonesia akan terangkat menjadi kelas menengah.

Hal tersebut merupakan sebuah mobilitas sosio-ekonomi yang sungguh dahsyat. Tetapi, Bank Dunia-dulu pernah memuji akhir era Orde Baru saat hampir runtuh-memberi batasan yang menyesatkan tentang kelas menengah itu, yaitu didasarkan pada jumlah belanja masyarakat yang bergerak dari 2 dolar sampai 20 dolar AS per hari, sebuah batasan yang teramat longgar.

Sebagai seorang yang awam dalam masalah ekonomi, saya tak henti bertanya tentang kondisi pekerja bangunan, misalnya, dengan pendapatan Rp 30 ribu per hari atau Rp 720 ribu per bulan (24 hari kerja), apakah tergolong kelas menengah jika ia membelanjakan penghasilannya itu sebesar 2 dolar AS (Rp. 18.000) per hari?

Last Updated ( Tuesday, 10 January 2012 )
 
Jan 03 2012
Pidato Nobel Tawakkul Karman (III) PDF Print E-mail
Tuesday, 03 January 2012

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Jika di Kairo terkenal Lapangan Tahrir, di Sanaa ada Lapangan Taghyir (Lapangan Perubahan). Di sinilah anak-anak muda Yaman berkumpul dan berorasi menuntut perubahan sistem kekuasaan, dari otokrasi menuju sistem demokrasi. Di sini pulalah Tawakkul selama berbulan-bulan membunyikan lonceng perubahan itu tanpa henti.

Lonceng itulah pada akhirnya yang memaksa penguasa negeri tersebut menyerahkan kekuasaannya, sekalipun tidak mulus. Siapa tahu negeri-negeri lain semisal Suriah, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, bahkan Saudi Arabia bakal menyusul. Kita ikuti lebih jauh pidato Nobel itu.

"Banyak bangsa telah menderita, termasuk rakyat Arab, sekalipun mereka tidak berada dalam suasana perang, tetapi juga tidak dalam suasana damai. Perdamaian di mana mereka hidup adalah sebuah 'perdamaian kuburan' palsu, perdamaian berupa menyerah kepada tirani dan korupsi yang memelaratkan rakyat dan membunuh harapan mereka untuk sebuah masa depan lebih baik.
 

 
Dec 27 2011
Pidato Nobel Tawakkul Karman (II) PDF Print E-mail
Tuesday, 27 December 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Menjadi semakin menarik seorang Tawakkul Karman dari Partai Ishlah yang biasa dikategorikan sebagai partai pendukung syariah telah tampil ke lapangan untuk meruntuhkan sistem politik yang antirakyat, tanpa membawa slogan syariah. Dalam pidato Nobelnya, tak satu pun kata syariah itu muncul. Tetapi, bahwa maq?shid al-syar?'ah (tujuan utama syariah) bagi tegaknya keadilan, kemerdekaan, dan persamaan sangat dirasakan dalam pidato itu. Prinsip-prinsip ini telah lama terkubur di bawah debu sejarah dalam masyarakat Yaman sebagaimana juga berlaku di seluruh dunia Arab. Kutipan-kutipan selanjutnya akan menjelaskan kepada kita bahwa Tawakkul memahami benar betapa ketidakadilan sejarah telah berlangsung, tidak hanya di dunia Arab, tetapi juga di bagian-bagian dunia yang lain.

"Sejak Anugerah Nobel Perdamaian pertama tahun 1901, berjuta orang telah mati dalam berbagai peperangan yang semestinya dapat dihindari sekiranya ada sedikit kearifan dan keberanian. Negeri-negeri Arab turut merasakan akibat peperangan tragis ini sekalipun bumi mereka adalah bumi kenabian dan risalah ketuhanan yang menyeru kepada perdamaian.

 
Dec 22 2011
Pidato Nobel Tawakkul Karman (I) PDF Print E-mail
Thursday, 22 December 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif


Nama lengkap pemenang hadiah Nobel Perdamaian asal Yaman ini adalah Tawakkul ‘Abd al-Salam Karman (32), seorang ibu beranak tiga. Bersama dengan dua tokoh perempuan lain, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf (73) dan aktivis perdamaian Liberia Leymah Gbowee (39), Tawakkul Karman pada 10 Desember 2011 berbagi anugerah Nobel Perdamaian di Oslo dalam sebuah upacara yang sangat bergengsi.

Berita sebagai pemenang ini diterima Tawakkul saat berada di tenda perlawanan terhadap Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, seorang diktator yang telah berkuasa selama 33 tahun. Tawakkul adalah pemenang hadiah Nobel termuda sejak hadiah ter hormat itu diberikan pertama kali pada 10 Desember 1901, 50 tahun setelah Alfred Bernhard Nobel wafat.

Tawakkul Karman juga dikenal sebagai Ibu Revolusi Yaman sekalipun banyak ulama San’a yang menyalahkan dan menuduhnya sebagai penghancur moralitas kaum perempuan. Kritik ini tidak dihiraukannya karena keyakinan bahwa kezaliman dan despotisme harus diakhiri di negerinya.
 

 
Dec 06 2011
Suparmin dan Perampok PDF Print E-mail
Tuesday, 06 December 2011

Oleh Ahmad Syafii Maarif


Pembaca setia ruang Resonansiini tentu masih ingat sosok seorang Suparmin, pria cacat fisik sejak dalam kandungan. Pada 27 September 2007, Reso nansi itu berjudul “Suparmin Korban Gempa 27 Mei 2006”. Sahabat kita ini harus saya tampilkan lagi. Bukan karena apa-apa, melainkan karena memang perjalanan kariernya sebagai tukang asah pisau-asah gunting sarat dengan pengalaman yang terasa tidak bisa diterima nalar.

Pada 27 November 2011, Parmin mampir ke tempat saya untuk asah pisau. Saya tunggui dia sambil menyimak pengalaman hidupnya yang dramatis sampai rampung melaksanakan tugasnya dengan baik. Saya sangat percaya dengan tutur katanya karena dia jujur dan lugu.

Demikianlah pada suatu hari di Terminal Bus Kartasura (Surakarta-Jawa Tengah) jauh sebelum gempa 2006, Parmin didekati oleh seseorang yang langsung memaksanya agar uang yang ada di dompetnya diserahkan segera. Semula Parmin mengatakan tidak punya uang. Tetapi, karena terus didesak, dompetnya dibuka dan dikeluarkan uang sebanyak Rp 60 ribu hasil jerih payahnya berlawalata pada hari itu dengan tongkatnya yang setia.
 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 1 - 9 of 269

TuneUp Utilities 2011
Bulk Folders Creator
Adobe Flash Catalyst CS5.5 Student and Teacher Edition
Symantec Norton 360 Version 3.0 Premier Edition
Roxio Toast 11 Titanium MAC
Radiologik MAC
Ashampoo 3D CAD Architecture 2
Autodesk Alias Surface 2012
RE Flex MAC
Steinberg Cubase 5