Nov
17
2008
|
Monday, 17 November 2008 |
 Dr Musharraf Hussain Director of Karimia Institute, Nottingham, Britain. Pemimpin Delegasi Imam Inggris Selama tiga hari, saya tinggal di Pondok Pesantren Sunan Pangandaran,
Yogyakarta. Saya begitu terkesan terhadap sambutan penghuni pondok
tersebut. Saya merasa diterima sebagai saudara, dengan segala
keramahtamahan dan ketulusan.Disana, saya merasa di lingkungan yang
sangat bersahaja, bukan saja dari para guru dan santri disana, tapi
juga warga sekitarnya. Mereka begitu tulus selalu mengirimkan senyum.
Yang lebih menarik lagi, saya melihat pengelola pondok tak memberikan
perlakuan berbeda pada santri pria dan wanita. Mereka memang tinggal di
asrama terpisah. Tapi mereka diperlakukan sama, totally equal.
Saya
tak bisa membandingkan keberadaan pesantren semacam PP Sunan
Pangandaran dengan yang ada di Inggris. Saya datang bukan untuk membuat
perbandingan, dan saya juga tak mau melakukan itu. Tentu. Kami juga
mempunyai lembaga sama. Walaupun tujuannya sama, yakni untuk
mengajarkan Islam, tapi kita tidak bisa membandingkan. Semua perbedaan
ini timbul karena perbedaaan budaya, perbedaan filosofi hidup,
perbedaan cara hidup, dan juga berkaitan perbedaan lingkungan
sekitarnya. Selain itu, di Inggris kami tidak mempunyai sumber daya
manusia untuk mengelola pondok pesantren seperti yang ada di Indonesia.
Saya melihat betapa lembaga pendidikan Islam semacam ini bisa
bermanfaat membentuk karakter santri-santrinya menjadi muslim yang
baik. |
|
Nov
17
2008
|
Monday, 17 November 2008 |
|
Shouaib Ahmed adalah mantan sekretaris umum dari organisasi Islam the Markazi Jamiat Ahl-e-hadist
di Inggris. Pria berusai empat puluh tahunan ini kini ia merasa
mendapat saudara dari Indonesia, Drs Muhammad Saifuddin Hadi, yang
sehari-harinya guru Bahasa Arab di Madrasah Muallimin, Yogyakarta.
Shouaib dan Saifuddin Hadi dipertemukan melalui program Imam Exchance 2008,
3-9 November di Yogyakarta. Selama 3 hari Shouaib tinggal di Madrasah
Muallimin. Ia bergaul dengan warga madrasah milik Muhammadiyah
tersebut, para gurunya, santri-santrinya, juga dengan pegawai disana.
Kata Saifuddin, walaupun terasa singkat, hadirnya Shouaib telah membawa
kesan mendalam para warga madrasah. |
|
Nov
13
2008
|
Thursday, 13 November 2008 |
|
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Ibarat peluru kendali
yang melaju dengan kecepatan tinggi, Barack H Obama yang baru dua tahun
jadi senator akhirnya memenangkan pilpres Amerika 4 November 2008
melawan John McCain secara mutlak dalam electoral vote (wakil
yang langsung memilih presiden) dengan perolehan suara 349:173. Angka
pemilih di akar rumput berbanding 52:46 persen, dengan selisih suara
lebih tujuh juta.
Bila dipatok garis lurus sejak pilpres tahun 1928-2008, rekor tertinggi electoral vote
diraih oleh Ronald Reagan (Republik) melawan Walter Mondale (Demokrat)
dengan perbandingan 525:13 dalam pilpres 1984. Sekiranya Obama bukan
berkulit hitam, kemenangan dalam struktur angka itu tidaklah
spektakuler. Bill Clinton (Demokrat) dalam pilpres tahun 1996 melawan
Robert Dole (Republik) angka yang muncul adalah 379:159. |
|
Nov
04
2008
|
Tuesday, 04 November 2008 |
|
TEMPO Interaktif, Padang:
Ahmad Syafii Ma'arif, penerima Magsasay Award dari Filipina Agustus
lalu, kikuk penghargaannya itu dirayakan oleh Pemerintah Provinsi
Sumatera Barat, Sabtu (1/11). Ia marasa dibesar-besarkan. "Padahal
saya tak sebesar itu," ujarnya merendah.
Pada 1 Agustus 2008 lali
mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Pendiri Maarif Institute,
dianugerahi Magsaysay Award 2008 kategori Perdamaian dan Pemahaman
Internasional. Dewan Pengawas Ramon Magsaysay Award Foundation di
Manila,
|
|
Oct
23
2008
|
Thursday, 23 October 2008 |
“MELAHIRKAN GENERASI PEJUANG HAM”
Jakarta, 22.10.08. “Upaya penegakkan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia masih perlu mendapat dukungan dari pelbagai pihak, tidak terkecuali peran aktif lembaga pendidikan. Agenda ini menuntut kerja-kerja kreatif bahkan terobosan dari semua elemen institusi pendidikan nasional, termasuk sekolah Muhammadiyah”. Demikian disampaikan Prof. Dr. Yahya Muhaimin, MA, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, dalam launching dan bedah buku pendidikan agama Berwawasan HAM, Rabu, 22 Oktober 2008, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Mantan Mendiknas di era Presiden Abdurrahman Wahid ini menyambut baik inisiatif MAARIF Institute dan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah menyusun dan menerbitkan buku ajar Al Islam dan Kemuhammadiyahan Berwawasan HAM. Untuk penerbitan buku tersebut, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Raja Juli Antoni, berterimakasih kepada semua pihak, terutama Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, atas dukungan dan kerjasamanya. |
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>
|
| Results 1 - 9 of 26 |