Aug
24
2010
|
Pidato Kunci di Trento (I) |
|
|
|
|
Tuesday, 24 August 2010 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Sebagaimana telah
disinggung dalam Resonansi, 27 Juli 2010, saya diundang untuk
menyampaikan sebuah pidato kunci di depan sekitar 600 ahli etika Katolik
sedunia di Trento (Italia) pada 24 Juli yang lalu. Mereka mewakili 65
negara yang meliputi semua benua. Siapa tahu isi pidato itu baik juga
diketahui oleh publik Indonesia, maka terjemahan di bawah saya turunkan
seluruhnya. Yang aslinya berjudul “Ethics and Inter-Religious Dialogue
in a Globalized World (A Muslim Perspective)” atau “Etika dan Dialog
Lintas Agama dalam Sebuah Dunia yang Membuana Menurut Perspektif Seorang
Muslim.
Pengantar
Di sebuah dunia yang
terbelah antara si kaya dan si miskin, antara utara dan selatan, antara
mereka yang meraih manfaat melimpah di sebuah dunia yang membuana dan
mereka yang tertindas dan terpinggirkan, baik di bidang ilmu ekonomi
maupun bidang lainnya, etika macam apa yang sangat diperlukan saat ini
untuk menjembatani kesenjangan itu?
Dialog-dialog lintas agama
telah sering diadakan di berbagai bagian bumi selama lebih dari dua
dasawarsa terakhir. Tetapi, dunia kita, satu-satunya planet tempat kita
melangsungkan hidup, masih jauh dari atmosfer keadilan, saling memahami,
dan rasa aman. Konflik-konflik etnis keagamaan masih saja bersama kita:
Afghanistan dan Irak, seperti tak berdaya untuk mengembangkan demokrasi
dan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia. Terorisme dalam berbagai
jenis masih mengancam kemanusiaan pada umumnya. |
|
Aug
18
2010
|
Wednesday, 18 August 2010 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Kamis,
29 Juli 2010. Dalam usia senja dengan kepala tujuh, ada perasaan gundah
yang bergayut di otak saya jika bepergian jauh sebatang kara.
Tiga
jenis bayangan nasib malang yang mungkin berlaku: sakit, dirampok, dan
tersesat.
Alhamdulillah, kejadian pertama dan kedua belum pernah
dialami. Jika sakit, paling-paling sakit perut dan gatal di kaki karena
alergi cuaca dingin. Adapun tersesat di jalan, kejadian di Muenchen yang
akan saya ceritakan ini bukan yang pertama dialami, padahal dengan
berjalan kaki lagi.
Dalam perkara ingat-mengingat alamat jalan
dan tempat, boleh jadi IQ saya di bawah sopir Maarif Institute, Bung
Irman. Di Jakarta yang serba macet, teman yang satu ini sangat menguasai
jalan-jalan tikus agar cepat tiba di tempat tujuan. Sekali Bung Irman
mengenal sebuah alamat atau lokasi mungkin seumur hidup tak akan
dilupakannya. Tak tahu bagaimana dahsyat saraf otaknya bekerja untuk
mengingat tempat-tempat tertentu, sekalipun baru sekali didatangi. Kita
tidak boleh pandang enteng seorang sopir yang belum tentu berpendidikan
tinggi. Ada saja kelebihan seseorang yang harus dihargai, apa pun
posisinya.
Demikianlah, sore pada tanggal di atas setelah rampung
berseminar dengan tema ”Religious Pluralism: Islam and Christianity in
the 21st Century” di Eden Hotel Wolff, Jalan Arnulfstr 4, saya harus
berjalan ke suatu tempat. Demi memenuhi permintaan anak untuk mencarikan
alat canggih yang bernama Apple Ipad, saya bergerak ke arah timur dari
Hotel Excelsior di jalan SchuzenstroBe 11, sebuah nama jalan yang
beberapa kali saya baca, tetapi tidak pernah hafal.
|
|
Last Updated ( Monday, 23 August 2010 )
|
|
Aug
05
2010
|
MUHAMMADIYAH YANG MENYEJARAH |
|
|
|
|
Friday, 06 August 2010 |
Fajar Riza Ul Haq
Direktur Eksekutif MAARIF Institute for Culture and Humanity
Perbincangan bahkan lebih jauh pertautan - sebagaimana hendak dituju tema Jurnal Inovasi kali ini – Muhammadiyah dan imaji peradaban utama sangat berkaitan dengan etos kreativitas dan otonomi individu. Hal ini mengingat Islam memperlakukan manusia sebagai manusia, tidak dianggap remeh dan tidak juga dipuja setengah dewa (Sardar, 1986: 41). Sebuah peradaban lahir dan tumbuh dari denyut nadi manusia kreatif bahkan berbudaya. Sosiolog besar Muslim Ibnu Khaldun berujar, “secara alamiah setiap manusia memiliki karakter beradab, oleh karena itu suatu kemutlakan untuk bermasyarakat sebagai fondasi sebuah peradaban” (Muqoddimah, tt.: 41).
Para filosof menyebut peradaban itu dengan istilah “madinah”. Tidak ayal, idiom “peradaban utama” merupakan alih bahasa bahkan bisa jadi sebuah penerjemahan gagasan besar Al Faraby mengenai “al madinah al fadhilah”. Dalam perspektif evolusi peradaban Khaldunian, sejarawan-filosof Arnold Toynbee mendudukan peradaban sebagai sebuah gerakan yang dinamis, bukanlah satu kondisi puncak yang jumud. Semangat perubahan itulah yang mengkatalisasi kebangkitan, pertumbuhan, kejayaan bahkan hingga kejatuhan sebuah peradaban. Jadi, idealitas “peradaban utama” yang ingin dituju masyarakat Muhammadiyah bersifat becoming (proses menjadi), bukan being, mengikuti alur argumentasi Stuart Hall, seorang punggawa Cultural Studies, ketika ia mengulas persoalan identitas.
Ketika Muhammadiyah mendeklarasikan “mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-sebenarnya” sebagai cita-cita sosial persyarikatan pada tahun 1945 di era Ki Bagus Hadikusumo maka gerakan ini sedang memproyeksikan masa depan yang TERENCANA secara institusional. Ziauddin Sardar membedakan masa depan tidak terarah dan terencana. Menurut Haedar Nashir, rumusan lain yang sempat dipakai pada periode asas tunggal Pancasila 1985, “terwujud masyarakat utama adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT, ” mewakili substansi rumusan awal karena rumusan kedua sebangun dengan konsep “al madinah al fadhilah” (lih. Nashier, 2010: 319-320). Sangat terang, para pemimpin Muhammadiyah sudah secara secara sadar memproyeksikan gerakan Muhammadiyah untuk mencapai idealitas peradaban utama. Maka menjadi sungguh tepat pilihan strategi gerakan ini dengan memposisikan diri sebagai gerakan dakwah dan kebudayaan, bukan gerakan politik. |
|
Aug
03
2010
|
Demokrasi dan Peluang untuk Perbaikan |
|
|
|
|
Tuesday, 03 August 2010 |
|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Beberapa hari yang
lalu, seorang anggota DPR muda yang cukup kritikal dengan masalah
kekuasaan mengatakan kepada saya bahwa dari 560 koleganya, kurang dari
sepertiga yang berkualitas. Sebagian besar hanyalah menyandang gelar
sebagai wakil rakyat yang misi politiknya tidak jelas, kecuali
melaksanakan tiga D: Datang, Duduk, dan Duit.
Mungkin
penglihatan sahabat kita ini berlebihan, sebab siapa tahu mereka yang
berada dalam kategori tiga D itu sesungguhnya adalah manusia-manusia
baik, hanya habitatnya bukan di parleman, melainkan tempat lain yang
sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Tetapi sudahlah, apa yang
ditengarai oleh teman di atas juga telah menjadi pembicaraan di
warung-warung kopi di seluruh pelosok Nusantara. Tingkat peradaban
demokrasi kita memang baru mencapai taraf itu, tak perlu disesali,
semuanya semoga dalam proses menuju perbaikan kualitatif.
Sesungguhnya
yang patut disorot bukan hanya lembaga legislatif, sebab dua mitranya,
eksekutif dan yudikatif, idem dito. Belum lama ini mantan petinggi
kementerian keuangan dengan jujur mengatakan kepada saya bahwa
pemerintah sekarang telah kehilangan roh, tidak mampu melihat yang
esensial, hampir semuanya melakukan akrobatik tambal sulam. Ada perintah
tegas dari atas, misalnya, dalam implementasi hampir tidak ada
kelanjutannya. Yang memberi perintah pun kemudian tenang-tenang saja, ya
karena itu tadi, mengabaikan yang esensial. Kadang-kadang saya
berpikir, mungkin semuanya itu bukan sebagai tanda kelemahan pemerintah,
tetapi memang masalah bangsa dan negara ini terlalu ruwet untuk mampu
ditangani oleh mereka yang kecil nyali dan tidak fokus. Di ranah
yudikatif, jangan ditanya lagi, semuanya terbiasa main kucing-kucingan
di antara sesama aparat penegak hukum, tanpa perasaan malu. Yang
beruntung adalah pengacara yang memang bahagia dengan situasi keruh yang
memberi keuntungan materi kepadanya.
|
|
|